Alasan Pengobatan TBC Harus Sampai Tuntas

Kamis, 08 Feb 2018 17:39

Penulis: Iwan Tantomi

Ayotosstb.com - Mengidap Tuberkulosis adalah sebuah perjuangan. Disebabkan oleh bakteri bernama Mycobacterium tuberculosis, penyakit ini sangat mengganggu dan bikin minder. Nggak hanya membuat batuk dan sesak napas, tapi juga takut menulari banyak orang.

Penyakit TBC pun juga sangat populer di Indonesia, yang menjadi salah satu negara dengan penderita Tuberkulosis terbanyak di dunia. Jumlah kasus  TBC  di  Indonesia  menurut  Laporan  WHO  tahun  2015,  diperkirakan  ada  1  juta  kasus  TBC  baru  per tahun  (399  per  100.000   penduduk)   dengan   100.000   kematian   per tahun (41 per 100.000 penduduk). Untuk menekan dan menghilangkan TBC, Menteri Kesehatan, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K) mencanangkan program Temukan Obati Sampai Sembuh Tuberkulosis (TOSS TB).

Biar nggak galau dengan risiko penularannya, berikut adalah alasan mengapa pengobatan TBC itu harus sampai tuntas.

Memastikan Kuman TBC Benar-Benar Musnah

Dengan pengobatan yang teratur, sampai sembuh, diharapkan kuman penyebab TBC benar-benar mati. Soalnya kalau masih tetap ada, dikhawatirkan Mycobacterium tuberculosis sudah kebal terhadap obat obat, yang disebut sebagai Multi Drug Resistant Tuberculosis (MDR-TBC).

Bakal Keluar Duit Lebih Banyak

© pexels

Kalau bakteri Mycobacterium tuberculosis berubah resisten MDR-TBC, maka obat yang diberikan harus lebih kuat dari biasanya. Selain itu, pengobatan akan memerlukan waktu lebih lama,kurang lebih  selama 2 tahun. Belum lagi ditambah banyaknya efek samping dari obat dan berbagai macam pemeriksaan darah, juga yang lainnya. Dengan begitu, pengobatan menjadi lebih kompleks, sehingga membutuhkan biaya yang lebih besar bagi pemerintah kita yang menyediakan pengobatanya

Sebuah Perjuangan Berat Demi Memerdekakan Diri Dari TBC

Berbicara di simposium Pulmonary Infection Simposia bulan Mei 2015 lalu, dokter spesialis paru dari FKUI, Erlina Burhan mengatakan bahwa obat untuk TBC akan mengakibatkan efek samping, seperti gatal pada kulit, mual, nafsu makan hilang, kaburnya penglihatan dan pendengaran, hingga gangguan kepribadian. Semua itu harus dijalani selama enam bulan, sehingga perlu komitmen yang kuat. Sebab, pada aplikasinya, banyak pasien TBC yang tidak melanjutkan pengobatan ketika sudah merasa sehat dan tidak ada keluhan lagi.

Efek Samping yang Berat Bikin Banyak Pasien TBC Nyerah Sebelum Sembuh Total

© pexels

Melihat dampaknya, nggak heran kalau banyak pasien TBC yang ‘mengibarkan bendera putih’ sebelum pengobatan TBC tuntas. Hal ini justru salah karena membuat kuman TBC makin kebal dengan obat. Hal ini pun bisa memunculkan risiko mengalami TBC RO. Seperti  juga  pada  diagnosis  TBC  maka  diagnosis  TB-RO juga diawali dengan penemuan pasien terduga TBC-RO. Gejala umumnya terjadi jika pasien TBC gagal pengobatan kategori 2 setelah konversi 3 bulan, dan pengobatan kategori 1 setelah konversi 2 bulan. Yang benar adalah pasien harus aktif dan rutin menjalin komunikasi dengan dokter, menjelaskan gejala efek samping yang ia rasakan agar proses penyembuhan tetap terkontrol dengan baik.

Untuk Indonesia Bebas TBC

Sesuai dengan petunjuk Menteri Kesehatan, TOSS TB dilaksanakan untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat Indonesia terhadap bahaya Tuberkulosis agar penularannya bisa ditekan seminimal mungkin. Jangan abai dengan penyakit yang satu ini. Temukan, dan obati Tuberkulosis sampai tuntas demi Indonesia yang sehat dan bebas TBC.

Sudah paham kenapa pengobatan TBC harus sampai tuntas, kan? Kesimpulannya, nggak perlu panik dengan beragam efek samping yang dirasakan. Untuk pasien, kuatkan tekadmu untuk sembuh. Sementara untuk yang anggota keluarganya terserang kuman TBC, bangkitkan semangat juangnya agar bisa merdeka dari TBC, sekaligus membebaskan Indonesia dari Tuberkulosis.

Source:

http://hukor.kemkes.go.id/uploads/produk_hukum/PMK_No._67_ttg_Penanggulangan_Tuberkolosis_.pdf

Ikuti Kami